Headline News

Pemkot Tangsel Dorong Partisipasi Pria Dalam KB

SETU - Partisipasi pria di Kota Tangerang Selatan untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB) masih rendah. Tercatat persentasi pria dalam hal KB hanya satu persen. Salah satu penyebabnya, lantaran minimnya informasi tentang medis operasi pria (MOP) kepada masyarakat.

 

Ini diketahui saat kegiatan gerak jalan yang digelar BKKBN dalam rangka kampanye pentingnya KB bagi masyarakat di Taman Kota II BSD, Setu yang dihadiri Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie, Anggota Komisi IX DPR Irgan Chairul Mahfizd beserta jajaran pejabat dari BKKBN dan ratusan peserta jalan sehat pada Hari Minggu, 28 Maret 2016. 

Wakil Walikota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan, akses laki-laki terhadap perolehan informasi pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, masih minim. Masyarakat masih awam mengenai KB bagi pria khususnya MOP/vasektomi. “Mereka masih berpikir bahwa operasi tersebut akan menganggu kesehatannya padahal aman,” ungkapnya saat menghadiri acara tersebut.

Menurutnya, vasektomi ini merupakan yang paling efektif dalam mensukseskan program KB dibanding alat kontrasepsi yang lain. “Jika alat-alat lain khususnya yang dipakai wanita bisa dicabut atau kelupaan pemakaian, vasektomi tidak bisa karena sifatnya permanen,” katanya.

Vasektomi, sambung Wawali Benyamin, dapat mengendalikan populasi penduduk di Kota Tangsel. Saat ini penduduk kota dengan tujuh kecamatan telah mencapai angka 1,4 juta jiwa. Setiap tahunnya mengalami penambahan 3,4 persen. “Jika terus dibiarkan hal ini bisa menimbulkan masalah sosial. Seperti, keterbatasan perolehan pekerjaan, pendidikan serta kesehatan akibat kepadatan penduduk,” terangnya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya akan terus meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat terkait keamanan dan manfaat MOP. Walau tingkat partisipasi pria dalam KB ini masih rendah. Namun, kesadaran kaum wanita masih tinggi. “Persentase partisipasi keikutsertaan KB perempuan mencapai 75 persen,” ujarnya.

Sementara anggota Komisi IX DPR RI Irgan Chairul Mahfidz menuturkan, untuk menyukseskan program KB di Indonesia perlu cara yang kreatif. Sudah tidak zaman lagi dengan cara indokrinasi seperti ceramah atau seminar. “Saat ini masyarakat membutuhkan hal-hal yang ringan agar bisa langsung dicerna,” terang politisi PPP ini.

Ke depannya, kata dia, masyarakat harus mengerti dan sadar bahwa proses perencanaan perkawinan termasuk memiliki anak harus terprogram sehinga bisa mewujudkan keluarga yang bahagia. Salah satunya dengan menerapkan dua anak dan jarak usia anak tidak terlalu dekat. “Tidak banyak anak maka biaya hidup menjadi tidak terlalu berat sehingga bisa mendapatkan kesejahteraannya,” pungkasnya.(bpti-ts3)